Tradisi melepas kerabat yang hendak menuju Tanah Suci sering kali diisi dengan pelukan hangat dan ucapan selamat. Namun, secara syariat, momen perpisahan ini sebaiknya diiringi dengan lafal doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW agar perjalanan ibadah tersebut dilindungi sejak dari bandara hingga kembali ke tanah air.
Lafal Doa Sesuai Sunnah untuk Calon Jemaah Umrah
Tidak perlu berlama-lama mencari referensi, berikut adalah dua bacaan utama yang sangat dianjurkan untuk diucapkan ketika bersalaman atau melepas kepergian calon dhuyufurrahman.
1. Doa Menitipkan Agama dan Amanat (Dibaca Saat Berjabat Tangan)
| Format | Teks |
|---|---|
| Arab | أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ |
| Latin | Astawdi’ullaha diinaka wa amaanataka wa khawaatiima ‘amalik. |
| Arti | “Aku titipkan agamamu, amanatmu, dan penutup amal perbuatanmu kepada Allah.” |
2. Doa Memohon Bekal Ketakwaan
| Format | Teks |
|---|---|
| Arab | زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ |
| Latin | Zawwadakallahut taqwa wa ghafara dzanbaka wa yassara lakal khaira haitsumaa kunta. |
| Arti | “Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam kebaikan di mana saja kamu berada.” |
Realita di Lapangan Seputar Tradisi Walimatussafar
Fenomena unik sering dijumpai di tengah masyarakat Indonesia menjelang musim umrah. Banyak kerabat hadir ke acara pengajian pelepasan atau walimatussafar dengan kebingungan merangkai kata. Kebanyakan orang hanya mengucapkan frasa umum berupa harapan agar ibadah berjalan lancar. Padahal, memberikan bekal spiritual melalui rangkaian doa sunnah di atas jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar menitipkan amplop atau hadiah fisik.
Kesalahan persepsi juga kerap terjadi ketika tamu justru mendesak didoakan secara berlebihan oleh calon jemaah. Sering kali para tamu melupakan fakta bahwa merekalah yang seharusnya lebih dulu mendoakan keselamatan perjalanan peziarah yang akan menempuh penerbangan belasan jam lintas benua.
Panduan dan Etika Melepas Rombongan ke Tanah Suci
Menjaga adab saat mengantar keluarga atau tetangga ke asrama haji maupun bandara memegang peranan krusial. Berdasarkan literatur fikih dan kebiasaan baik yang direkomendasikan tokoh agama, terdapat beberapa tata krama saat mengucapkan perpisahan.
Tata krama yang perlu diperhatikan meliputi urutan berikut:
- Menyambung silaturahmi dengan datang langsung ke kediaman jauh-jauh hari sebelum jadwal keberangkatan menjadi terlalu padat.
- Menghindari pembicaraan yang dapat membebani pikiran calon jemaah, seperti memaksa menitipkan doa spesifik yang terlalu panjang atau meminta dibelikan oleh-oleh tertentu secara berlebihan.
- Membaca lafal doa perpisahan dengan lirih sembari berjabat tangan erat tepat sebelum calon peziarah menaiki kendaraan menuju bandara.
Dasar Hukum dan Otoritas Syariat
Rujukan mengenai bacaan ini tidak sekadar bermodal kebiasaan kosong. Teks doa penitipan agama dan amanat bersumber langsung dari hadis sahih riwayat Imam Tirmidzi dan Abu Dawud. Kementerian Agama (Kemenag) RI dalam berbagai panduan bimbingan manasik juga senantiasa mengingatkan pentingnya adab safar (bepergian) ini. Mengamalkan sunnah tersebut terbukti secara empiris memberikan jaminan ketenangan psikologis bagi peziarah dalam menghadapi kelelahan fisik selama menyeberangi zona waktu internasional.








