Momen meninggalkan kediaman menuju Asrama Haji sering kali diwarnai keharuan yang mendalam. Berpisah dengan keluarga, kerabat, dan tanah air selama kurang lebih 40 hari tentu membutuhkan persiapan mental serta spiritual yang matang. Dalam syariat Islam, calon jemaah sangat dianjurkan melafalkan doa khusus saat berpamitan agar hati menjadi lapang dan perjalanan menuju Tanah Suci senantiasa dalam penjagaan Sang Pencipta.
Pembaca yang saat ini sedang bersiap menuju embarkasi tidak perlu bingung mencari referensi bacaan. Tradisi berpamitan yang sesuai sunnah melibatkan komunikasi doa dua arah antara jemaah yang akan berangkat dan keluarga yang melepas kepergian.
Lafal Doa Pamitan Haji Sesuai Sunnah
Berdasarkan tuntunan yang merujuk pada hadis sahih riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, serta diselaraskan dengan buku Panduan Manasik Haji Kementerian Agama RI, berikut adalah rangkaian doa yang dibaca saat momen perpisahan.
1. Doa Jemaah untuk Keluarga yang Ditinggalkan
Saat bersalaman dan berpamitan, calon dhuyufurrahman (tamu Allah) disunnahkan mendoakan keluarga, harta, dan segala urusan yang ditinggalkan di tanah air.
| Kategori | Bacaan |
|---|---|
| Arab | أَسْتَوْدِعُكَ اللهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ |
| Latin | Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu. |
| Arti | “Aku titipkan kalian kepada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipan-Nya.” |
2. Doa Keluarga untuk Jemaah Haji
Setelah jemaah mengucapkan kalimat di atas, pihak keluarga, kerabat, atau tetangga yang ikut mengantar sangat dianjurkan untuk membalasnya dengan lafal penjagaan agama dan amanah.
| Kategori | Bacaan |
|---|---|
| Arab | أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ |
| Latin | Astawdi’ullaha diinaka wa amaanataka wa khawatima ‘amalik. |
| Arti | “Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan akhir amalmu kepada Allah.” |
Adab Meninggalkan Rumah Menuju Embarkasi
Meninggalkan rumah untuk berhaji bukan sekadar rutinitas safar biasa. Terdapat serangkaian adab yang sebaiknya diterapkan saat kaki mulai melangkah keluar dari ambang pintu kediaman.
Langkah-langkah berikut akan membantu menata hati jemaah agar lebih fokus pada tujuan ibadah.
- Melaksanakan salat sunnah safar dua rakaat sebelum keluar rumah.
- Membaca doa keluar rumah (Bismillahi tawakkaltu ‘alallah) saat melangkah melewati pintu.
- Melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu saat menaiki kendaraan pengantar.
- Mengumandangkan takbir tiga kali dilanjutkan dengan doa naik kendaraan saat mobil atau bus mulai bergerak.
Realita di Lapangan Saat Momen Perpisahan
Pengalaman mengamati dinamika keberangkatan di berbagai embarkasi—seperti Asrama Haji Pondok Gede, Donohudan, hingga Sukolilo—menunjukkan satu pola yang seragam. Banyak jemaah merasa beban psikologis terberat justru terjadi di menit-menit akhir menjelang naik bus.
Fenomena isak tangis yang berlebihan dari pihak pengantar sering kali membuat langkah jemaah menjadi berat. Belum lagi tradisi “titip doa” dari para tetangga yang terkadang diucapkan pada momen yang kurang tepat, misalnya saat jemaah sedang repot memeriksa kelengkapan paspor atau tas kabin.
Mengelola Keharuan Jelang Keberangkatan
Keluarga pengantar memiliki peran krusial dalam menjaga ketenangan batin calon haji. Melepas kepergian jemaah dengan senyuman dan keyakinan utuh jauh lebih bermanfaat daripada tangisan histeris yang justru bisa merusak konsentrasi ibadah.
Tugas mengurus rumah, anak-anak, atau pekerjaan yang ditinggalkan sepenuhnya harus diambil alih oleh pihak keluarga di tanah air. Dengan memberikan jaminan bahwa segala urusan di rumah akan baik-baik saja, jemaah bisa mengarahkan seluruh fokusnya murni untuk meraih predikat haji mabrur.
Oleh karena itu, saling membacakan doa pamitan seperti yang tertera pada tabel di atas bukan sekadar ritual lisan. Kalimat tersebut merupakan bentuk penyerahan total (tawakal) bahwa sebaik-baiknya penjaga bagi jemaah di pesawat maupun bagi keluarga di rumah adalah Allah Yang Maha Memelihara.









