Momen perpisahan jelang keberangkatan ibadah ke Tanah Suci sering kali diliputi suasana haru yang mendalam. Calon dhuyufurrahman yang sedang mencari bacaan doa pamitan umrah untuk keluarga di rumah tidak perlu menggulir layar terlalu jauh. Secara syariat, Rasulullah telah mencontohkan kalimat spesifik yang sarat makna tauhid saat harus meninggalkan orang-orang tercinta.
Berikut adalah lafal doa yang diucapkan oleh jemaah yang hendak berangkat, beserta doa balasan dari keluarga yang ditinggalkan.
Lafal Doa Sesuai Sunnah Saat Pamitan Umrah
Tradisi melepas jemaah sering kali diisi dengan ragam bacaan panjang. Padahal, panduan manasik yang merujuk pada hadis sahih mengajarkan lafal pamitan yang sangat ringkas namun padat makna.
1. Doa Jemaah untuk Keluarga yang Ditinggalkan di Rumah
Ketika jemaah berpamitan dan bersalaman dengan anggota keluarga di depan pintu rumah atau di bandara, disunnahkan untuk membaca doa penitipan berikut ini.
Lafal Arab: أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Latin: Astaudi’ukumu-llahal-ladzi la tadhi’u wa daa-i’uhu.
Artinya: “Aku titipkan kalian kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan titipan-Nya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
2. Doa Balasan dari Keluarga untuk Jemaah yang Berangkat
Keluarga yang ditinggalkan juga memiliki kewajiban moral untuk mendoakan keselamatan dan kelancaran ibadah peziarah. Setelah jemaah mengucapkan doa di atas, keluarga disunnahkan menjawab dengan bacaan ini.
Lafal Arab: زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
Latin: Zawwadakallahut-taqwa wa ghafara dzanbaka wa yassarra lakal-khaira haitsuma kunta.
Artinya: “Semoga Allah membekalimu ketakwaan, mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan bagimu di mana pun berada.” (HR. Tirmidzi)
Realita di Lapangan Saat Momen Pelepasan Bandara
Pengamatan langsung di titik-titik keberangkatan seperti Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta atau asrama haji menunjukkan sebuah fenomena umum. Isak tangis dan pelukan panjang sering kali membuat jemaah lupa mengamalkan sunnah pamitan ini. Fokus biasanya terpecah antara memastikan kelengkapan dokumen paspor, mengatur koper kabin, hingga sekadar menenangkan keluarga yang menangis tersedu-sedu.
Esensi dari doa pamitan sebenarnya bukan sebatas ritual ucapan selamat tinggal. Mengucapkan Astaudi’ukumu-llahal-ladzi merupakan bentuk pelepasan psikologis. Ketika jemaah secara lisan menyerahkan penjagaan anak, istri, atau suami kepada Allah, beban pikiran mengenai kondisi rumah seharusnya ikut luruh. Hal ini sangat krusial agar pikiran bisa seratus persen terkalibrasi untuk fokus pada pelaksanaan rukun umrah di Makkah nanti.
Adab Meninggalkan Rumah Berdasarkan Panduan Manasik
Selain membaca doa pamitan antara individu, Kementerian Agama (Kemenag) RI melalui buku panduan manasiknya juga memberikan pedoman tata cara keluar rumah menuju bandara. Langkah-langkah ini bertujuan memastikan jemaah berangkat dalam kondisi suci dan terlindungi secara spiritual.
Jemaah sangat disarankan memperhatikan urutan adab berikut sebelum melangkahkan kaki melewati ambang pintu rumah.
| Urutan Adab | Keterangan Praktik di Lapangan |
|---|---|
| Menjaga Wudu | Jemaah dianjurkan sudah dalam keadaan berwudu sejak dari rumah. Kondisi suci ini menjaga ketenangan hati selama perjalanan udara yang memakan waktu belasan jam. |
| Salat Sunnah Safar | Melaksanakan salat dua rakaat sebelum keluar rumah. Rakaat pertama disunnahkan membaca surah Al-Kafirun, dan rakaat kedua membaca surah Al-Ikhlas. |
| Doa Keluar Rumah | Saat melangkah keluar pintu, baca lafal Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, laa haula wa laa quwwata illaa billaah agar perjalanan dilindungi dari gangguan. |
| Sedekah Safar | Banyak ulama menyarankan untuk bersedekah sebelum safar sebagai bentuk ikhtiar menolak bala, bisa dititipkan ke panti asuhan atau tetangga yang membutuhkan. |
Keputusan untuk menjalankan ibadah umrah membutuhkan kesiapan fisik sekaligus kelapangan hati. Dengan mengamalkan doa pamitan yang benar, jemaah tidak hanya mematuhi tuntunan nabi, tetapi juga membangun benteng tawakal. Keluarga di rumah terjaga oleh sang Maha Penjaga, sementara jemaah di perjalanan diliputi oleh keberkahan.









