Di tengah gersangnya hamparan Padang Arafah, berdirilah sebuah bukit berbatu yang terus menjadi saksi bisu jutaan manusia meneteskan air mata setiap tahunnya. Jabal Rahmah, atau secara harfiah berarti Gunung Kasih Sayang, memancarkan daya tarik mistis yang sulit ditepis oleh peziarah mana pun. Ketika momen wukuf tiba, bukit ini memutih tertutup ribuan manusia berpakaian ihram yang menengadahkan tangan ke langit dengan dada bergemuruh.
Di luar musim haji sekalipun, pesona tumpukan batu granit ini tidak pernah sepi dari para peziarah umrah. Langkah kaki yang mendaki tangga-tangga kasarnya selalu diiringi dengan segunung harapan. Sayangnya, tidak sedikit niat luhur yang memudar akibat tercampur oleh tradisi dan keyakinan yang melenceng dari akar sejarah tempat mulia ini.
Meluruskan Mitos Pertemuan Jodoh di Bukit Kasih Sayang
Sebuah fenomena jamak yang sangat memprihatinkan sering tersaji di puncak bukit ini. Batuan bersejarah dan pilar penanda di puncaknya sering kali penuh dengan coretan spidol berisikan nama pasangan atau permohonan jodoh. Mitos yang beredar kencang di kalangan masyarakat awam menyebutkan bahwa berdoa meminta pasangan hidup di tempat ini memiliki tingkat keberhasilan yang tidak masuk akal.
Pemahaman keliru ini bersumber dari narasi sejarah bahwa Jabal Rahmah adalah titik pertemuan kembali antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah ratusan tahun terpisah pascadiusir dari surga. Memang benar ada pendapat ahli sejarah yang membenarkan peristiwa emosional tersebut terjadi di sini. Namun, menjadikan bukit ini sebagai situs ritual mencari jodoh sangat bertentangan dengan esensi utama yang diajarkan oleh para pendahulu.
Kisah Nabi Adam di tempat ini bukanlah kisah romansa murahan. Ini adalah kisah epik tentang penyesalan paripurna, penderitaan panjang menanggung rasa bersalah, dan akhirnya pengampunan luar biasa dari Sang Khalik. Menjadikan tempat ini sekadar medium “menulis nama pacar” adalah sebuah bentuk pelecehan terhadap kedalaman spiritualitas sejarah manusia pertama.
BACA JUGA: Kumpulan Doa Terbaik Saat Wukuf di Arafah, Puncak Ibadah Haji
Bacaan Doa Nabi Adam sebagai Fokus Utama
Menyadari hakikat sejarah yang sebenarnya, doa paling utama yang harusnya mendominasi bibir peziarah saat menatap bukit ini adalah doa pertobatan. Ini adalah doa yang sama, yang diucapkan dengan lisan bergetar oleh ayahanda seluruh umat manusia saat meminta belas kasih agar hidupnya yang kelam diselamatkan.
Lafal doa monumental ini terekam abadi dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf dan sangat direkomendasikan untuk dibaca berulang-ulang dengan penuh penghayatan batin.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Rabbana zhalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakuunanna minal khaasiriin.
Artinya, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
BACA JUGA: Doa Ketika Tersesat atau Bingung Arah di Area Masjidil Haram
Merangkai Tobat dengan Sayyidul Istighfar
Untuk menyempurnakan permohonan ampunan setelah merenungi kesalahan layaknya Nabi Adam, melengkapinya dengan Sayyidul Istighfar (induk dari segala permohonan ampun) adalah pilihan paling cerdas.
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Allahumma anta rabbii laa ilaaha illa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’udzu bika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu’u laka bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta.
Artinya, “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui segala nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui segala dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.”
Panduan Fisik dan Mental Mendaki Jabal Rahmah
Secara geografis, mendaki tumpukan batu yang terpapar sinar matahari langsung di padang gurun membutuhkan manajemen energi yang baik. Suhu udara yang kerap menembus angka ekstrem bisa memicu kelelahan dan dehidrasi jika tidak diantisipasi.
Ada beberapa panduan pragmatis bagi jemaah. Menggunakan kacamata pelindung dan membawa pasokan air minum yang memadai sangat diwajibkan. Tidak perlu memaksakan diri mendaki hingga mencapai pilar beton di puncak jika kondisi tubuh tidak memungkinkan, terutama bagi lansia. Berdoa di bagian bawah atau di sekitar bukit memiliki nilai kemustajaban yang sama selagi hati benar-benar terpaut pada Sang Pemilik Rahmat.
Arafah dan Jabal Rahmah mengajarkan manusia tentang miniatur hari kiamat. Di hamparan gersang ini, gelar sarjana, kekayaan finansial, hingga nasab keluarga kehilangan tajinya. Semua berdiri sejajar, terbakar terik matahari, mengiba satu hal yang sama yaitu ampunan. Jika air mata tidak berhasil menetes di tempat yang menjadi saksi luruhnya dosa manusia pertama ini, mungkin ada ruang di dalam hati yang perlu segera dievaluasi dan dibersihkan secara total.









