Momen melepas keberangkatan ayah dan ibu ke Tanah Suci selalu dipenuhi suasana haru dan harapan. Bagi seorang anak, membekali perjalanan mereka dengan untaian doa adalah bentuk bakti tertinggi, jauh melebihi sekadar titipan bekal materi atau perlengkapan perjalanan. Memohonkan perlindungan kepada Sang Pencipta memastikan langkah orang tua dijaga sejak dari tanah air hingga kembali ke rumah.
Berikut adalah lafal doa utama yang sangat dianjurkan menurut sunnah untuk dibaca oleh anak saat melepas keberangkatan orang tua menuju Baitullah.
Lafal Doa Pelepasan Jemaah Sesuai Sunnah
Doa ini dibaca tepat saat berpamitan, baik saat masih di rumah maupun ketika melepas di bandara atau asrama haji.
| Bahasa | Teks / Bacaan |
|---|---|
| Arab | زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ |
| Latin | Zawwadakallahut-taqwa wa ghafara dzanbaka wa yassara lakal-khaira haitsuma kunta. |
| Arti | Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam kebaikan di mana pun kamu berada. |
Berdasarkan riwayat Imam Tirmidzi, doa di atas diucapkan oleh Rasulullah SAW ketika ada seorang sahabat yang berpamitan untuk melakukan perjalanan jauh. Membacakan doa ini untuk orang tua menumbuhkan keyakinan bahwa Allah SWT yang akan mengambil alih penjagaan mereka secara penuh.
Doa Khusus untuk Kelancaran Ibadah dan Kesehatan
Selain doa sunnah di atas, anak sangat disarankan menambah doa spesifik menggunakan bahasa ibu agar lebih meresap di hati. Untaian doa pelengkap ini berfokus pada kekuatan fisik, mengingat ibadah umrah sangat menguras tenaga.
| Bahasa | Teks / Bacaan |
|---|---|
| Arab | اللَّهُمَّ سَلِّمْهُمْ وَسَلِّمْ مَا مَعَهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ فِي حِلِّهِمْ وَتَرْحَالِهِمْ، وَتَقَبَّلْ عُمْرَتَهُمْ |
| Latin | Allahumma sallimhum wa sallim maa ma’ahum, wahfazhhum fii hillihim wa tarhaalihim, wa taqabbal ‘umratahum. |
| Arti | Ya Allah, selamatkanlah mereka dan selamatkanlah apa yang bersama mereka, jagalah mereka saat berdiam maupun bepergian, dan terimalah ibadah umrah mereka. |
Realita di Lapangan Saat Melepas Keberangkatan Orang Tua
Mengirimkan orang tua, terutama yang sudah memasuki usia lanjut (lansia), sering kali memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi keluarga di rumah. Realita di lapangan menunjukkan bahwa kepanikan anak biasanya memuncak saat proses boarding di bandara atau ketika orang tua harus transit di negara lain tanpa pendampingan keluarga inti.
Kekhawatiran mengenai apakah ayah dan ibu mampu mendorong kursi roda, apakah mereka kuat berjalan jauh saat sa’i dari Safa ke Marwah, hingga kecemasan akan risiko tersesat di pelataran Masjidil Haram adalah hal yang sangat manusiawi. Oleh sebab itu, melantunkan doa titipan kepada Allah menjadi semacam penawar hati yang menenangkan psikologis keluarga yang ditinggalkan.
Sering dijumpai kasus di mana anak justru menangis histeris atau menitipkan terlalu banyak pesan teknis yang malah membebani pikiran orang tua. Sikap paling bijak adalah melepaskan mereka dengan senyuman tulus, pelukan hangat, dan keyakinan bahwa biro travel serta muthawif akan menjalankan tugasnya, sementara Allah memberikan perlindungan ghaib melalui doa yang terus dipanjatkan.
Amalan Anak di Rumah Selama Orang Tua Berada di Tanah Suci
Tugas seorang anak tidak berhenti setelah pesawat lepas landas. Selama sembilan hingga dua belas hari orang tua menjalani rangkaian ibadah umrah, aliran doa dari tanah air harus terus dijaga.
Terdapat beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan oleh anak untuk mendukung kelancaran ibadah orang tua dari kejauhan.
- Memperbanyak Sedekah Subuh: Mengeluarkan sedekah setiap pagi dengan meniatkan pahala dan keberkahannya untuk kesehatan orang tua di Makkah dan Madinah. Sedekah diyakini memiliki kekuatan penolak bala dan mempermudah urusan yang sulit.
- Mengurangi Komunikasi yang Tidak Perlu: Banyak anak terlalu sering melakukan panggilan video hanya untuk menanyakan urusan sepele di tanah air. Hal ini justru dapat memecah fokus ibadah orang tua. Komunikasi sebaiknya dilakukan seperlunya, sekadar memastikan kesehatan dan mendoakan kelancaran ibadah mereka.
- Mendirikan Salat Malam dan Berdoa di Waktu Mustajab: Bangun di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan salat Tahajud menjadi senjata utama. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi (selisih 4 jam) membuat momen sepertiga malam di Indonesia bertepatan dengan waktu orang tua sedang bersiap menuju masjid atau beristirahat.
- Menjaga Harta dan Kehormatan Keluarga: Menjaga amanah rumah, harta benda, dan kerukunan antar saudara selama orang tua bepergian adalah wujud nyata dari birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Hati orang tua akan jauh lebih tenang beribadah jika mengetahui kondisi rumah dalam keadaan aman dan damai.
Perjalanan umrah adalah perjalanan spiritual yang menuntut keikhlasan tidak hanya dari jemaah yang berangkat, tetapi juga dari keluarga yang melepasnya. Berbekal doa dan tawakal, semoga setiap langkah orang tua di Tanah Suci bernilai pahala dan mereka kembali ke tanah air membawa predikat umrah yang mabrur.









